Oleh: xmulyono | Mei 29, 2008

Revolusi Pendidikan

Revolusi Pendidikan di Indonesia, mungkinkah terjadi ?

Penulis: Hernowo
Saya baru saja selesai membaca buku karya seorang doktor pendidikan asal Thailand. Buku itu tipis dan ditulis dengan gaya tulis yang populer. Di buku itu, saya dapati juga gambar-gambar yang mempertegas uraian si penulis. Judul buku itu, pada awalnya cukup mengagetkan saya, Belajar dari Monyet (2002).

Terus terang, sebelum membeli dan kemudian membacanya, saya agak tersinggung dengan judul buku itu. “Kok, saya, sebagai manusia, sepertinya disuruh belajar kepada monyet,” batin saya. Padahal, tidak ada masalah ‘kan belajar kepada apa saja, termasuk kepada seekor binatang?

Namun, sekali lagi, tidak mudah menyingkirkan perasaan tersinggung itu. Apalagi bila kita benar-benar mengalami secara konkret dan langsung hal-hal itu. Mungkin selama ini, secara tidak konkret (abstrak), atau dalam bentuk teori, kita merasa tidak tersinggung saat dianjurkan untuk belajar kepada siapa dan apa saja. Begitu kita mengalami secara konkret, barulah perasaan ketersinggungan itu muncul.

Okelah. Yang jelas, saya sudah membaca buku Belajar dari Monyet karya Dr. Rung Kaewdang. Dr. Rung ini, di negerinya Thailand, adalah salah seorang pendidik yang sangat aktif. Lahir di Provinsi Yala di bagian selatan Thailand, dan lulusan Akademi Pendidikan Guru Ban Somdet dan Universitas Srinakarinwirot di Bangkok. Dia kemudian memperoleh MPA (Master of Public Administration) dari Institut Nasional Administrasi Pembangunan (NIDA). Lalu, setelah itu, meraih gelar Doctor of Philosophy dari State University of New York at Buffalo.

Pada masa lalu, Dr. Rung bekerja sebagai Deputi Sekretaris Jenderal Kantor Komisi Pendidikan Dasar Nasional (ONPEC); Sekretaris Jenderal Komisi Pendidikan Swasta; Deputi Menteri Muda, Kementerian Pendidikan; Sekretaris Jenderal Komisi Kebudayaan Nasional; dan Direktur Jenderal Departemen Pendidikan Nonformal (Pendidikan Luar Sekolah). Sekarang dia bekerja sebagai Sekretaris Jenderal Kantor Komisi Pendidikan Nasional (ONEC).

Pada tahun 1997, ketika Undang-Undang Dasar atau Konstitusi baru Thailand dirumuskan, Dr. Rung berupaya keras agar unsur-unsur reformasi pendidikan dimasukkan ke dalam undang-undang tertinggi negara itu dengan jalan mendesakkan bagian-bagian pendidikan yang penting ke dalam UUD 1997. Kemudian memberi mandat pada pengumuman resmi Undang-Undang Pendidikan Nasional tahun 1999 di mana dia memimpin persiapan cetak biru berbasis penelitian dan memberi kemudahan pada peran serta seluruh negeri sepanjang proses penyusunan undang-undang tersebut.

Pekerjaan yang sangat dibanggakannya adalah UU Pendidikan Nasional 1999 dan pekerjaan penting berikutnya adalah pelaksanaan reformasi pendidikan sesuai dengan UU Pendidikan Nasional itu. Karya tulis penting yang sudah diterbitkan, antara lain, Re-engineering the Thay Bureaucratic System (1995), Re-engineering the Thay System-Part II (1996), The Revolution of Thay Education (1997), Thay Education: A Global Perspective-A Collection of Articles on Education (1998), dan Learning from Monkeys (1999).

Apa yang bisa saya pelajari dari buku terakhir Dr. Rung, Belajar dari Monyet? Luar biasa. Saya kaget juga setelah selesai membacanya. Buku tipis ini ternyata merekam sebuah revolusi. Lewat buku Belajar dari Monyet saya benar-benar diajak untuk menikmati sekaligus memahami sebuah revolusi pendidikan yang tengah berlangsung di negeri Gajah Putih.

Padahal, buku Dr. Rung itu hanya bercerita tentang sebuah sekolah untuk para monyet yang berada di Thailand bagian selatan. Sekolah itu bernama Akademi Pelatihan Monyet (Monkey Training College). Adalah Pak Guru Somporn sang pemilik sekolah dan yang menjadi pengajar-tunggal di sekolah tersebut. Lalu apa yang menarik perhatian seorang doktor pendidikan untuk menuliskan hal-ihwal sekolah untuk para monyet itu?

“Saya sangat terkesan dengan metodologi dan prinsip-prinsip psikologi yang digunakan oleh Guru Somporn,” tulis Dr. Rung di “Pendahuluan” bukunya. “Meskipun saya pribadi sudah meraih gelar doktor dalam bidang pendidikan dan mempunyai pengalaman mengajar yang luas, saya merasa tidak dapat dibandingkan dengan dia dalam caranya mengajar siswa-siswanya.”

Beberapa hal yang mengesankan dari cara mengajar Guru Somporn, antara lain, dapat disebutkan sebagaimana uraian berikut ini.

Pertama, Guru Somporn senantiasa menerima para siswanya dengan hangat dan berjanji sepenuhnya untuk membantu studi mereka. Guru Somporn tidak pernah menunjukkan rasa benci terhadap murid yang bodoh.

Kedua, pengajarannya didasarkan pada rasa kasih sayang. Guru Somporn adalah seorang pengikut Buddha. Teknik-teknik mengajarnya sangat dipengaruhi oleh pemikiran pengikut Buddha.

Ketiga, Guru Somporn menekankan pemberian ganjaran (membombong) lebih daripada hukuman. Para muridnya belajar sambil bermain dan belajar dalam suasana yang menyenangkan.

Keempat, Guru Somporn menganggap setiap monyet adalah anaknya. Ia berbicara lebih lembut dibandingkan dengan beberapa orang yang mengajar manusia. Perilaku seperti ini adalah cerminan dari “komunikasi hati” yang membangun kepercayaan, kehangatan, dan hubungan.

Kelima, baik dalam pengertian kurikulum maupun pengajaran, Guru Somporn membangun kurikulumnya berdasarkan kebutuhan hidup dan kerja para siswanya. Hakikat kurikulumnya adalah mampu menjawab hal-hal yang berkaitan dengan perilaku maupun moral.

*

Apabila di Thailand saja, menurut anggapan saya, sudah terjadi sebuah revolusi pendidikan, apakah di Indonesia juga sudah terjadi? Saya ingin menjawab sudah. Menurut saya, di Indonesia sesungguhnya sudah terjadi sebuah revolusi di bidang pendidikan. Dan revolusi pendidikan itu amat kentara terjadi, terutama, di sekolah-sekolah swasta di beberapa kota besar di Indonesia.

Saya memang tidak memiliki data yang akurat. Saya hanya pernah diundang untuk mengunjungi dan berbicara di Sekolah Insan Mulia di Surabaya dan Sekolah Mutiara Bunda di Bandung. Dua sekolah ini mendidik anak-anak usia TK dan SD. Konsep-konsep pembelajarannya didasarkan pada teori-teori pendidikan mutakhir—yang lebih menekankan pada pelibatan-total siswa dan perasaan menyenangkan yang dialami para siswa saat belajar—seperti Active Learning, Cooperative Learning, Experiential Learning, Accelerated Learning, dan masih banyak lagi.

Di sekolah-sekolah tersebut, pembelajaran tidak hanya terjadi di ruang-ruang kelas. Pembelajaran dilakukan, lebih banyak, di luar ruangan kelas sehingga dapat mengurangi tingkat kejenuhan para siswa. Lapangan sepakbola, tanah-tanah pertanian, kolam-kolam ikan, stasiun kereta api, mobil-mobil pemadam kebakaran, kapal-kapal yang berlayar di lautan lepas, lapangan udara yang berisi pesawat-pesawat komersial atau pesawat-pesawat tempur, dan masih banyak lagi tempat-tempat menarik, menjadi “ruangan kelas” mereka.

Dalam lingkup yang sangat kecil, revolusi pendidikan itu—kalau apa yang saya ceritakan ini boleh disebut demikian—juga saya alami. Begini ceritanya. Saat ini saya mengajar di SMU Plus Muthahhari, Bandung. Saya mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setiap minggu sekali saya mengajak para siswa saya untuk menulis dengan menggunakan medium bahasa Indonesia. Bahkan, saya mengiming-imingi nilai minimal tujuh untuk mereka yang mampu secara konsisten menulis setiap hari di buku harian (diary) mereka. Saya ingin mereka terbiasa menulis, dengan melibatkan diri mereka sendiri, setiap hari. Saya yakin sekali bahwa “otot-otot menulis” mereka akan lentur begitu mereka bersedia membiasakan menulis setiap hari.

Di samping kebiasaan akan melahirkan kecakapan, berlatih menulis—menurut saya—secara otomatis juga akan mendorong mereka, para siswa itu, untuk menggunakan bahasa Indonesia secara nyata. Tidak sedikit para ahli yang menguasai teori bahasa atau kaidah-kaidah berbahasa—terutama Bahasa Indonesia—namun mandul dalam menulis. Dan tidak sedikit orang biasa yang tidak menguasai teori bahasa, namun sangat jernih dan tertata dalam mengungkapkan sesuatu secara tertulis. “Practice makes perfect!” kata sebuah pepatah.

Nah, menurut seorang peneliti bernama Stephen D. Krashen—dalam bukunya yang didasarkan oleh sebuah penelitian berjudul The Power of Reading: Insights from the Research (1993)—kaitan menulis dengan membaca itu sangatlah erat. Meningkatkan kualitas menulis tidak cukup hanya dengan berlatih menulis. Kualitas sebuah tulisan akan meningkat pesat apabila, selain berlatih menulis, si penulis itu juga banyak membaca beragam buku. Gaya tulis dan gaya ungkap berbahasa tulis akan menjadi sangat kaya, mengalir, dan tidak kaku apabila si penulis banyak memasukkan idiom, istilah, frasa, atau apa pun yang berkaitan dengan bahasa, dengan menempuh jalan membaca.

Oleh sebab itu, saat pertama kali saya mengajar, saya senantiasa menenteng satu atau dua buku. Saya tidak bermaksud mendorong para siswa itu membaca buku—sebab, hingga kini, saya masih bingung tentang bagaimana cara membangkitkan semangat kepada seseorang agar mau membaca buku. Saya ingin menunjukkan kepada siswa-siswa saya bahwa dari membaca bukulah dorongan-kuat menulis itu muncul. Hingga kini, saya tidak pernah lupa untuk membawa buku saat mengajar. Kadang-kadang, saya mengawali mengajar dengan membacakan kisah-kisah menarik dan bermanfaat yang saya dapat dari sebuah buku.

Apa yang akan terjadi dengan pendidikan di Indonesia apabila setiap guru bersedia “membawa” satu atau dua buku saat mengajar dan , kemudian, perlahan-lahan para guru itu membukan pengajarannya dengan bercerita mengenai hal-hal menarik yang dipetik dari sebuah buku?

Bandung, 23 Mei 2002
Catatan: Materi tulisan ini pernah disampaikan di sebuah Lokakarya Meningkatkan Kualitas Guru MAN Se-Jabar dan Banten yang diselenggarakan oleh YPM Salman-ITB bekerja sama dengan Departemen Agama, di Bandung, pada 25 Mei 2002.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori